Coba simak kisah indah yang diambil dari sebuah buku berjudul "MILLIONAIRE MINDSET" karya Gerry Roberts berikut ini.
Lalu Anda renungkan apakah Anda saat ini juga melakukan hal yang
sama, menghalangi kesuksesan yang lebih besar lagi untuk mendatangi Anda
dengan bertahan dan berpegang erat terus pada apa yang sudah Anda
miliki?
Kisah ini menceritakan tentang seorang gadis kecil yang begitu
gembira bisa membeli seuntai kalung mutiara imitasi dari sebuah toko
kaki lima dengan uang sakunya sendiri.
Dia begitu bangga dan gembira dengan pencapaiannya ini, yaitu
kemampuan dan kedisiplinannya menabungkan sebagian uang jajannya untuk
membeli sebuah kalung mutiara yang tampak begitu indah di matanya (sama
seperti kita semua yang bangga bila berhasil mencapai sesuatu dengan
jerih payah kita sendiri).
Dipakainya kalung itu setiap saat, kecuali ketika hendak tidur
dan mandi karena tidak ingin kalung tersebut membelit rambutnya yang
panjang atau pudar warnanya terkena air.
Satu bulan setelah memiliki kalung tersebut, terjadi kejadian yang membuatnya bertanya-tanya.
Seperti kebiasaannya, ayah si gadis yang pulang kerja cukup larut, selalu mengucapkan selamat tidur pada putrinya ini.
Namun, kali ini, sembari mengucapkan selamat mimpi indah, sang
ayah meminta agar kalung tersebut diberikan kepadanya. Ketika ditanya
kenapa, dia tidak menjelaskan dan hanya berkata, "Berikan saja pada
Ayah, boleh, sayang?"
Dan ini terjadi setiap malam.
Si gadis kecil yang bingung kenapa sang ayah meminta kalung
kesayangannya tersebut selalu menolak. Demikian kira-kira dialog mereka.
"Anakku, apakah kau menyayangi ayah?"
"Tentu saja ayah. Aku sangat menyayangi ayah," jawab si gadis sambil memeluk leher ayahnya.
"Dan kau juga tahu kalau Ayah menyayangimu?" tanya sang ayah
lagi. Yang dijawab dengan anggukan pasti dari kepala mungil putrinya
tersebut.
"Kalau begitu coba berikan kalung mutiaramu kepada ayah," pinta si ayah lebih lanjut.
"Ayah aku sayang Ayah, tapi Ayah jangan minta kalungku itu. Ayah
boleh ambil mainanku yang lain. Tapi jangan kalungku, ya, Ayah, please." rengek si gadis.
Begitulah, maka si ayahpun mengalah dan tidak meneruskan niatnya meminta kalung putrinya.
Setelah beberapa kali dialog ini terulang di hari-hari
berikutnya, akhirnya pada malam ke sekian, si gadis kecil kita ini,
sambil duduk bersila di atas kasurnya, menunggu sang ayah datang untuk
mengucapkan selamat tidur.
Dia telah memutuskan akan memberikan kejutan kecil kepada
ayahnya. Sebelum sang ayah membuka mulut untuk lagi-lagi meminta si
gadis kecil menyerahkan kalungnya, dia mengulurkan tangannya yang
tergenggam kepada sang ayah.
Sambil tersenyum dia berkata, "Baiklah ayah. Ini dia kalungku.
Ambilah kalau memang ayah menginginkannya. Aku sayang ayah. Aku akan
berikan pada ayah apapun yang ayah mau."
Sekarang saya akan berhenti bercerita sebentar.
Saya tanya, apakah Anda tahu bagaimana kira-kira kelanjutan
cerita ini? Apa yang terjadi selanjutnya? Lalu, apa pula moral dari
cerita ini?
Bagaimana? Bisa menebaknya?
Baik. Ini dia jawaban yang benar. Bila tebakan Anda benar atau mendekati benar. SELAMAT.
Berarti anda sudah memegang satu lagi RAHASIA BESAR
tentang bagaimana manusia bisa menikmati hidup yang bahagia, sukses,
kaya raya dan lain sebagainya sebagaimana yang diinginkannya.
Saya sungguh ingin berterima kasih pada orang yang pertama kali
menciptakan cerita ini. Suatu cerita yang bila Anda telaah dan mengerti
benar maknanya maka akan cukup menjadi satu-satunya falsafah hidup
bahagia di dunia ini.
Jelasnya begini.
Pertama, mari saya lanjutkan cerita tersebut. Dan inilah akhir ceritanya.
Ketika si putri mengulurkan tangannya untuk menyerahkan kalung
mutiaranya (yang sebenarnya cuma imitasi meskipun indah, karena mana
mungkinlah seorang gadis kecil bisa membeli aslinya hanya dari uang
jajannya), si ayah menerimanya lalu meletakkannya di meja.
Kemudian dari saku bajunya, dia mengeluarkan seuntai kalung mutiara asli yang sugguh indah berkilauan, menakjubkan.
Dipasangkannya kalung tersebut ke leher buah hatinya yang
ternganga takjub melihat hadiah luar biasa indah yang tak pernah dia
duga sebelumnya tersebut.
Let Go. Lepaskan. Biarkan. Berikan. Ikhlaskan.
Anda baru saja membaca artikel yang berkategori Cerita hidup
dengan judul Keiklasan (letting Go). Anda bisa bookmark halaman ini dengan URL https://havidzneutron.blogspot.com/2013/02/keiklasan-letting-go.html. Terima kasih!
Ditulis oleh:
triguna Power - Monday, February 4, 2013
Belum ada komentar untuk "Keiklasan (letting Go)"
Post a Comment
Sebagai Pembaca yang Budiman,hendaknya memberikan komen...:D
......*Terima kasih atas kunjungannya*.......